Rumput Liar kembali melakukan aksi sosial yaitu Rumput Liar Goes to School. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 21 November 2015 berlokasi di SD Negeri 19 Rukoh, Aceh Besar. Kegiatan Rumput Liar Goes to School ini berbasis pada kegiatan peduli lingkungan serta kesehatan tubuh. Kegaitan aksi sosial Komunitas Rumput Liar sepenuhnya dilaksanakan oleh para volunteer Generasi I dan Generasi II dengan tema 'Bintang Kecil Peduli Lingkungan'. 

Kegiatan Bintang Kecil Peduli lingkungan terbagi ke dalam beberapa rangkaian acara. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh ketua umum Komunitas Rumput Liar, kemudian disusul dengan kata pembukaan dari perwakilan Komunitas Aceh Bangun Lestari (ABL), dan terakhir ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SDN 19 Rukoh. Acara selnajutnya diserahkan kepada kakak-kakak volunteer Generasi I dan Generasi II Komunitas Rumput Liar. 


Pada kegiatan selanjutnya, para volunteer yang sudah terbagi dalam beberapa kelompok pemain skenario drama pun memperagakan berbagai aksi dan prilaku peduli lingkungan serta prilaku menjaga kesehatan sederhana dalam bentuk skenario drama yang ringkas dan menarik di depan siswa-siswi SD Negeri 19 Rukoh. Anak-anak diajak untuk ikut berinteraksi dalam setiap skenario dengan menyanyikan lagu atau dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. 



Selain pementasan skenario drama singkat, kegiatan lain yang dilakukan adalah penyelenggaraan beberapa perlombaan yang bertemakan peduli lingkungan. Perlombaan tersebut meliputi perlombaan membuat kerajinan tangan dari bahan dasar botol bekas dan kaleng bekas untuk anak kelas 3 dan 4 SD, serta perlombaan mengutip sampah yang ada di halaman sekolah yang dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok untuk anak kelas 5 dan 6. Terakhir adalah pembagian hadiah bagi siswa yang memenangkan perlombaan serta pembagian souvenir bagi seluruh siswa SDN 19 Rukoh, Aceh Besar. 



Kegiatan Bintang Kecil Peduli Lingkungan ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dan mampu mengajak siswa-siswi, khususnya siswa-siswi SD Negeri 19 Rukoh, untuk lebih menyayangi dan peduli terhadap lingkungannya serta menambah pengetahuan bagi anak-anak dalam berprilaku menjaga kesehatan dimulai dari yang paling sederhana seperti kebiasaan mencuci tangan dengan baik dan benar. 


Project Management (PM) 
Chief: Zee Trina
- Cut Atika Putri
- Ichwan Azmi
- Suci Riski Tami

Creative and Innovative Management
Chief: Nedia Nirwanti & Maisarah
- Cut Nurul Zahria
- Lisa Pira Ariska
- Irhamna M. Jamil
- Riyan Mudastsir

Partnership and Fundraising Manangement
Chief: Lisa jafia Sari
- Imam Al Farisyi
- Muhammad Asril
- Raihan Ramadhani

Media,Information and Technology
Chief: Syarifah Muhira & Farida
- Monaris Daralina
- Muhammad Hafidh Ilmi

Human Resources Empowerment
Chief : Cut Kandil
- Sasni Andrika
- Novika Wahyuni
- Mazaya Khalila Muna

Volunteering Management
Chief: Syarifah Nabila Z.
- Muhajir
- Baizar Zulmi
- Yusra Maulina



Selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota divisi Komunitas Rumput Liar untuk Generasi ke-2. Pemilihan ini dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dengan sangat teliti oleh panitia pelaksana Open Recruitment Komunitas Rumput Liar Generasi ke-2. Penilaian ini didasarkan oleh hasil tes wawancara dan komitmen teman-teman yang telah diobservasi dan didiskusikan bersama oleh para panitia. Semoga dengan diberikannya kepercayaan kepada teman-teman agar ikut mengelola Komunitas Rumput Liar untuk jangka waktu setahun kedepan dapat membuahkan hasil yang maksimal dan memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitar. Semangat berbagi, semangat menginspirasi!




Salam Hangat,


Admin Komunitas Rumput Liar

  1. Ayu Selvi Mansyur
  2. Irhamna M. Jamil
  3. Muhajir
  4. Yusra Maulina
  5. Sasni Andrika
  6. Cut Nurul Zahria Mardian
  7. Lisa Pira Ariska
  8. Raihan Ramadhani
  9. Asmaur Ridhana Zuhra
  10. Dini Ervina
  11. Sayed Mabrur
  12. Raisah Azhary
  13. Muhammad Hafidh Ilmi
  14. Julita Sari
  15. Hafni Ayu Dewi Manurung
  16. Ichwan Azmi
  17. Putri Mawadhatul Fajri
  18. Dicky Putra Fajar
  19. Mazaya Khalila Muna
  20. Debby Octavia
  21. Anggun Maulida Nengsih
  22. Tata Aprianita
  23. Rinal Khairunnas
  24. Muhammad Asyraf
  25. Fahmi Rija Arhas
  26. Yesi Ana Aariati
  27. Maghfirah
  28. Izzati Lathifah
  29. Suci Rizki Tami
  30. Monaris Daralina
  31. Marina Putri
  32. Cut Atika Putri
  33. Novika Wahyuni
  34. Saddam
  35. Muhammad Asril
  36. Novi Yanti
  37. Meilia Puspita
  38. Baizar Zulmi
  39. Maulizasari
  40. Imam Al Farisyi
  41. Ida Fajri
  42. Ayu Widayanti
  43. Riyan Mudastsir


Selamat kepada teman-teman yang mendapatkan kesempatan untuk bergabung menjadi Generasi ke-2 Komunitas Rumput Liar! Untuk informasi terkait agenda atau informasi lainnya silakan memantau akun facebook Rumput Liar atau dapat juga menghubungi contact person Komunitas Rumput Liar. 




Mari Berbagi, Mari Menginspirasi



Admin Rumput Liar


Selamat Pagi Minggu Rumputers! Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendaftarkan diri menjadi kandidat Generasi ke-2 Komunitas Rumput Liar. Pendaftaran untuk periode ini sudah ditutup dan untuk tahap selanjutnya bagi teman-teman yang sudah mendaftar, yaitu tahap interview, insya Allah akan dilakukan selama dua hari yaitu tanggal 17-18 Oktober 2015 pukul 14:00 - 17:45 WIB. Untuk informasi lebih lanjut mengenai lokasi ataupun adanya perubahan agenda lainnya teman-teman bisa terus memantau akun facebook Rumput Liar dan blog: rumahrumputliar.blogspot.com. Happy weekend! *cheers*
26 April 2015,

Hari Minggu, langit cerah, pasir putih dan laut biru menjadi sarapan pagi kami. Hari ini kelas di Blangkrueng sengaja diliburkan khusus untuk memberikan hari kosong kepada para relawan Rumput Liar. Di hari kosong ini, para relawan sepakat untuk berpiknik di Pantai Pulau Kapuk, Aceh Besar. 

Persiapan dilakukan kurang lebih dua minggu sebelum hari H tiba. Mulai dari merencanakan waktu dan lokasi wisata, sampai menentukan barang-barang apa saja yang harus dibawa. Semua relawan pun dipersilakan untuk memilih beberapa pilihan tempat wisata yang terdapat di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar. Namun, setelah proses voting, pilihan kami pun berakhir di Pantai Pulau Kapuk, Lhoknga. 

Bekal makanan, minuman segar, bahkan rujak buah menjadi santapan siang kami. Semua relawan terlihat lahap menghabiskan makanannya masing-masing. Kami duduk bersama dalam satu lingkaran besar sehingga wajah-wajah saling bertatapan. Kami bersenda gurau disela-sela makan siang kami, bercerita tentang ini dan itu, lalu tertawa bersama. Sungguh menyenangkan!

Seusai makan siang, azan Zuhur pun menghentikan kegiatan kami sesaat untuk menghadap Sang Ilahi. Lalu, satu per satu relawan Rumput Liar yang sudah selesai menunaikan shalat Zuhur kembali merapat ke dalam pondok-pondok kecil yang ada di bibir pantai. Santapan kedua mulai dikeluarkan, rujak buah.

Perut sudah kenyang, saatnya bermain. Alat-alat permainan dikeluarkan. Peraturan dibacakan dan peserta ditentukan. Saat itu, langit mulai mendung. Namun, kami tetap melanjutkan permainan kami bahkan saat hujan mulai turun agak deras. 

Permainannya sederhana. Potongan pipa yang dibelah dua, lalu dialirkan oleh sebuah bola pingpong. Peserta harus mempertahakan bola pingpong di atas pipa sambil mereka membawanya ke garis finish pertama, lalu membawanya kembali ke garis start awal. Teriakan-teriakan memberi semangat pada tim yang sedang bermain pun menambah keseruan. 






Permainan kedua yaitu memasukkan paku ke dalam sebuah botol. Namun, kali ini persertanya terdiri dari 10 orang. Pingang mereka diikat dengan sepotong tali, lalu tali-tali itu disatukan untuk mengikat sebuah paku. Botol bekas ditancapkan di pasir pantai dan pemain harus berjalan sekitar 4 meter dari garis awal mereka berada. Permainan ini membutuhkan kerja sama antara pemain-pemainnya. Harus ada yang mengalah untuk berjongkok, lalu menarik tubuhnya sedikit ke kanan atau ke kiri, maju atau mundur, agar paku dapat masuk ke dalam mulut botol. 




Setelah lelah bermain, kami pun berfoto bersama. Piknik hari ini sungguh menyenangkan. Piknik bersama ini membuat kami semakin mengenal satu sama lain dan memberikan sedikit reward pada para relawan atas kerja keras yang mereka lakukan selama ini. Kebahagiaan bertambah lagi dengan sebuah kejutan di akhir piknik. Masing-masing relawan mendapatkan postcard cantik dengan foto-foto mereka bersama adik-adik di Desa Blangkrueng. Alhamdulillah, piknik berjalan lancar dan semuanya bahagia. 





Kenangan tidak dapat diulang untuk kemarin, tidak dapat sama dengan esok atau lusa. Karena kebersamaan hari ini belum tentu dapat dirasakan lagi di lain waktu. ms.


Blangkrueng-(Senin, 23/03) Sisa kebersamaan kemarin Minggu sore itu masih terasa. Keseruan bermain antara kakak-kakak relawan dan adik-adik Desa Blangkrueng untuk menghabiskan sisa hari itu amat menyenangkan. Suasana berbeda dengan hari-hari mengajar biasanya membuat gelak tawa serta jalinan kekompakan para volunteer dan adik-adik Blangkrueng sore itu menyenangkan. Panas terik yang ikut bermain tidak membuat kalah semangat mengajar dan kebersamaan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Sore itu kami memperingati World Water Day 2015 yang juga diperingati oleh beberapa negara di seluruh dunia. Hari itu merupakan puncak dari perinngatan WWD di Blangkrueng setelah seminggu sebelumnya WWD ini disosialisasikan kepada adik-adik Blangkrueng. Selain itu WWD ini juga disosialisasikan kepada berbagai pihak diluar komunitas sendiri sebagai bentuk apresiasi bersama dalam memperingati World Water Day pada tahun ini. 

Komunitas Rumput Liar juga turut mengadakan photo challenge yang meminta tema #WaterIs untuk kemudian di-upload di beberapa sosial media. Challenge ini selain untuk mengenalkan Komunitas Rumput Liar yang hadir di tengah masyarakat juga untuk menarik perhatian banyak orang agar lebih peduli terhadap kepentingan air untuk dunia. Pemenang photo challenge ini akan dipilih berdasarkan banyaknya jumlah voting oleh volunteer Rumput Liar sendiri dan yang beruntung akan mendapatkan merchandise dari adik-adik Desa Blangkrueng, Aceh Besar. 

Selain photo challenge ini, di pertemuan mengajar sebelumnya para volunteer juga memperkenalkan kepada adik-adik Blangkrueng tentang pembahasan dasar mengenai apa itu air, manfaat air, siklus air, penyaringan air dan beberapa pokok bahasan lainnya. Adik-adik desa Blangkrueng dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari lebih kurang 5 orang. Tiap kelompok dibimbing oleh 3-5 orang kakak-kakak volunteer untuk menjelaskan kepada mereka tentang judul pembahasan air yang mereka dapatkan. Setelah itu, mereka diminta untuk mempersentasikan secara sederhana tulisan yang mereka buat di atas kertas karton hitam dan tempelan-tempelan kertas origami yang menjelaskan tentang pemahaman mereka mengenai judul pembahasan tersebut, tentunya dibantu oleh kakak-kakak volunteer yang membimbing tiap kelompok.

Pada puncak peringatan WWD di hari Minggu (22/03), adik-adik Blangkrueng diminta untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelompok-kelompok lain. Pintar, malu dan gaya bicara mereka membuat presentasi yang berlangsung selama lebih kurang 30 menit itu menjadi seru. Selanjutnya kakak-kakak volunteer mengajak adik-adik nonton bersama video animasi tentang siklus air di bumi dan beberapa video mengenai kekurangan air yang terjadi di beberapa negara dunia. Adik-adik Blangkrueng dapat melihat langsung kondisi dan akibat dari kekeringan yang terjadi sehingga mereka lebih paham mengapa kita harus menjaga kebersihan dan memanfaatkan air dengan sebaik mungkin.

Acara diberhentikan sementara kumandang adzan Ashar. Beberapa menit setelah itu, peringatan WWD ini kembali dilanjutkan dengan permainan outdoor yang dibuat oleh kakak-kakak volunteer untuk adik-adik Blangkrueng. Permainan ini sederhana. Adik-adik yang telah dibagi menjadi 4 kelompok diminta untuk memindahkan air dari ember yang ada di depan mereka ke ember yang ada di ujung lainnya dengan jarak yang telah diatur. Air-air tersebut dipindahkan dengan gelas plastik bekas minuman dengan syarat pemenangnya adalah kelompok yang memindahkan air paling banyak dan jumlah air yang tumpahnya paling sedikit. Permainan berlangsung seru. Adik-adik Blangkrueng menikmati games yang juga dihebohkan dengan sorakan semangat dari kakak-kakak volunteer.

Matahari beranjak turun. Seakan mengabarkan bahwa malam akan segera datang. Menjelang gelap, peringatan World Water Day hari itu ditutup dengan sesi foto bersama dan sorakan jargon WWD 15 dari para volunteer dan adik-adik Blangkrueng. Sederhana, tapi kami bahagia. Setidaknya paham tentang ada hal kecil yang mesti dijaga untuk kepedulian terhadap sesama di dunia. (El-A)
Disleksia adalah suatu kondisi yang menyebabkan anak sulit untuk membaca atau menulis. Disleksia juga merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penderita gangguan belajar pada anak usia sekolah adalah disleksia. Dan, uniknya angka kasus disleksia ini cenderung lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya gangguan yang dirasakan oleh anak-anak dengan disleksia tersebut. Apakah sulit mengingat huruf-huruf atau sulit membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya? Sebenarnya terdapat beberapa perbedaan yang dialami oleh anak-anak disleksia. Sebagian anak menyatakan ketika ia melihat tulisan, ia merasa tulisannya seperti pecah atau terputus. Ada pula yang merasa tulisannya seperti melayang-layang, terlihat kabur meskipun matanya tidak sakit, huruf-huruf yang terbalik, huruf-huruf dalam bentuk yang tidak sama besar, terlalu rapat, atau seperti bergelombang sehingga sulit untuk dibaca.





Disleksia sering juga disebut dengan 'word blindness'. Namun, sebenarnya tidak demikian. Anak-anak dengan disleksia dapat diajarkan untuk mengenal huruf-huruf dan angka. Banyak orang-orang sukses yang mengalami disleksia, contohnya saja Adam Levine, vokalis band ternama Maroon 5, atau penulis novel yang terkenal seperti Agatha Christie, bahkan seorang fisikawan yang teori-teorinya masih digunakan sampai sekarang ini, Albert Einstein.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan anak-anak dengan disleksia memiliki IQ di atas rata-rata. Tapi, mungkin akan timbul pertanyaan lainnya, bagaimana bisa anak yang tidak dapat menghitung atau membaca bisa mendapatkan IQ yang tinggi? Dalam hal ini, otak dari anak yang mengalami disleksia tidak semuanya mengalami masalah atau dengan kata lain yang mengalami gangguan hanya pada area tertentu saja. Bisa jadi, yang terganggu hanya otak bagian sebelah kanan saja, yang menurut para ahli otak sebelah kanan berkaitan dengan kreativitas dan konseptualisasi. 

Terkadang orang tua pun sering salah mengartikan kondisi anak. Orang tua atau guru sering salah memahami bahwa si anak memiliki IQ yang rendah atau lamban dalam belajar. Padahal, kesulitan belajar bisa saja disebabkan oleh disleksia. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk mengecek kemampuan anaknya sejak dini, termasuk pengecekan mata seperti membaca, tes buta warna, serta pengecekan pendengaran untuk memastikan tidak adanya gangguan seperti disleksia pada anak. 

Namun demikian, bukan berarti anak-anak dengan disleksia ini tidak dapat belajar atau akan selamanya menjadi 'buta huruf'. Mereka bisa belajar dan menjadi orang yang sukses tergantung dengan cara orang tua ataupun guru menanganinya. Anak-anak disleksia butuh cara belajar yang khusus. Mereka tetap bisa diajarkan huruf-huruf serta angka-angka. Mereka juga dapat diajarkan cara menuliskan kata demi kata, hingga mampu membuat kalimat sampai menyusun paragraf. Pada awal-awal belajar, mungkin anak dengan disleksia akan kesulitan membedakan b dengan d, atau m dengan n, dan lain sebagainya. Juga akan sulit membedakan kata papa atau mama. Dan ketika mulai dapat menulis, tak jarang mereka akan menempatkan huruf dalam sebuah kata dengan terbalik atau salah menempatkan huruf, misalnya 'kambing' menjadi kmabign atau kamping. Namun, percayalah bahwa ketika kita meminta penjelasan atau meminta anak membacakan apa yang telah ia tuliskan, ia akan mampu untuk menyampaikannya dengan benar. 

Yang jelas, memiliki anak dengan disleksia bukanlah suatu kesalahan atau masalah. Anak disleksia adalah anak istimewa, sama halnya dengan anak-anak yang lain. Anak disleksia hanya memiliki sedikit kesulitan dalam proses membaca atau menghitung. Oleh karena itu, orang tua harus dapat mengetahui dan memahami anaknya serta memastikan anaknya mendapatkan tenaga pengajar yang sesuai untuk menangani masalah disleksia tersebut. (SM)


Sumber referensi: The Little Book of Dyslexia, Joe Beech

Powered by Blogger.