Selamat kepada teman-teman yang mendapatkan kesempatan untuk bergabung menjadi Generasi ke-2 Komunitas Rumput Liar! Untuk informasi terkait agenda atau informasi lainnya silakan memantau akun facebook Rumput Liar atau dapat juga menghubungi contact person Komunitas Rumput Liar.
Mari Berbagi, Mari Menginspirasi
Admin Rumput Liar
Selamat Pagi Minggu Rumputers! Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendaftarkan diri menjadi kandidat Generasi ke-2 Komunitas Rumput Liar. Pendaftaran untuk periode ini sudah ditutup dan untuk tahap selanjutnya bagi teman-teman yang sudah mendaftar, yaitu tahap interview, insya Allah akan dilakukan selama dua hari yaitu tanggal 17-18 Oktober 2015 pukul 14:00 - 17:45 WIB. Untuk informasi lebih lanjut mengenai lokasi ataupun adanya perubahan agenda lainnya teman-teman bisa terus memantau akun facebook Rumput Liar dan blog: rumahrumputliar.blogspot.com. Happy weekend! *cheers*
26 April 2015,
Hari Minggu, langit cerah, pasir putih dan laut biru menjadi sarapan pagi kami. Hari ini kelas di Blangkrueng sengaja diliburkan khusus untuk memberikan hari kosong kepada para relawan Rumput Liar. Di hari kosong ini, para relawan sepakat untuk berpiknik di Pantai Pulau Kapuk, Aceh Besar.
Persiapan dilakukan kurang lebih dua minggu sebelum hari H tiba. Mulai dari merencanakan waktu dan lokasi wisata, sampai menentukan barang-barang apa saja yang harus dibawa. Semua relawan pun dipersilakan untuk memilih beberapa pilihan tempat wisata yang terdapat di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar. Namun, setelah proses voting, pilihan kami pun berakhir di Pantai Pulau Kapuk, Lhoknga.
Bekal makanan, minuman segar, bahkan rujak buah menjadi santapan siang kami. Semua relawan terlihat lahap menghabiskan makanannya masing-masing. Kami duduk bersama dalam satu lingkaran besar sehingga wajah-wajah saling bertatapan. Kami bersenda gurau disela-sela makan siang kami, bercerita tentang ini dan itu, lalu tertawa bersama. Sungguh menyenangkan!
Seusai makan siang, azan Zuhur pun menghentikan kegiatan kami sesaat untuk menghadap Sang Ilahi. Lalu, satu per satu relawan Rumput Liar yang sudah selesai menunaikan shalat Zuhur kembali merapat ke dalam pondok-pondok kecil yang ada di bibir pantai. Santapan kedua mulai dikeluarkan, rujak buah.
Perut sudah kenyang, saatnya bermain. Alat-alat permainan dikeluarkan. Peraturan dibacakan dan peserta ditentukan. Saat itu, langit mulai mendung. Namun, kami tetap melanjutkan permainan kami bahkan saat hujan mulai turun agak deras.
Permainannya sederhana. Potongan pipa yang dibelah dua, lalu dialirkan oleh sebuah bola pingpong. Peserta harus mempertahakan bola pingpong di atas pipa sambil mereka membawanya ke garis finish pertama, lalu membawanya kembali ke garis start awal. Teriakan-teriakan memberi semangat pada tim yang sedang bermain pun menambah keseruan.
Permainan kedua yaitu memasukkan paku ke dalam sebuah botol. Namun, kali ini persertanya terdiri dari 10 orang. Pingang mereka diikat dengan sepotong tali, lalu tali-tali itu disatukan untuk mengikat sebuah paku. Botol bekas ditancapkan di pasir pantai dan pemain harus berjalan sekitar 4 meter dari garis awal mereka berada. Permainan ini membutuhkan kerja sama antara pemain-pemainnya. Harus ada yang mengalah untuk berjongkok, lalu menarik tubuhnya sedikit ke kanan atau ke kiri, maju atau mundur, agar paku dapat masuk ke dalam mulut botol.
Setelah lelah bermain, kami pun berfoto bersama. Piknik hari ini sungguh menyenangkan. Piknik bersama ini membuat kami semakin mengenal satu sama lain dan memberikan sedikit reward pada para relawan atas kerja keras yang mereka lakukan selama ini. Kebahagiaan bertambah lagi dengan sebuah kejutan di akhir piknik. Masing-masing relawan mendapatkan postcard cantik dengan foto-foto mereka bersama adik-adik di Desa Blangkrueng. Alhamdulillah, piknik berjalan lancar dan semuanya bahagia.
Kenangan tidak dapat diulang untuk kemarin, tidak dapat sama dengan esok atau lusa. Karena kebersamaan hari ini belum tentu dapat dirasakan lagi di lain waktu. —ms.
Blangkrueng-(Senin,
23/03) Sisa kebersamaan kemarin Minggu sore itu masih terasa. Keseruan
bermain antara kakak-kakak relawan dan adik-adik Desa Blangkrueng untuk menghabiskan sisa
hari itu amat menyenangkan. Suasana berbeda dengan hari-hari mengajar biasanya
membuat gelak tawa serta jalinan kekompakan para volunteer dan adik-adik
Blangkrueng sore itu menyenangkan. Panas terik yang ikut bermain tidak membuat
kalah semangat mengajar dan kebersamaan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan
tersebut.
Sore itu kami memperingati World Water Day 2015 yang juga
diperingati oleh beberapa negara di seluruh dunia. Hari itu merupakan puncak
dari perinngatan WWD di Blangkrueng setelah seminggu sebelumnya WWD ini
disosialisasikan kepada adik-adik Blangkrueng. Selain itu WWD ini juga
disosialisasikan kepada berbagai pihak diluar komunitas sendiri sebagai bentuk
apresiasi bersama dalam memperingati World Water Day pada tahun ini.
Komunitas Rumput Liar juga turut mengadakan photo challenge yang
meminta tema #WaterIs untuk kemudian di-upload di beberapa sosial media. Challenge ini selain untuk mengenalkan Komunitas Rumput Liar yang hadir di tengah masyarakat juga untuk menarik
perhatian banyak orang agar lebih peduli terhadap kepentingan air untuk dunia.
Pemenang photo challenge ini akan
dipilih berdasarkan banyaknya jumlah voting oleh volunteer Rumput Liar sendiri dan yang beruntung akan mendapatkan merchandise dari adik-adik Desa Blangkrueng, Aceh Besar.
Selain photo challenge
ini, di pertemuan mengajar sebelumnya para volunteer juga memperkenalkan
kepada adik-adik Blangkrueng tentang pembahasan dasar mengenai apa itu air,
manfaat air, siklus air, penyaringan air dan beberapa pokok bahasan lainnya. Adik-adik desa
Blangkrueng dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari lebih kurang 5
orang. Tiap kelompok dibimbing oleh 3-5 orang kakak-kakak volunteer untuk
menjelaskan kepada mereka tentang judul pembahasan air yang mereka dapatkan.
Setelah itu, mereka diminta untuk mempersentasikan secara sederhana tulisan yang mereka buat di atas kertas karton hitam dan tempelan-tempelan kertas origami yang menjelaskan tentang pemahaman
mereka mengenai judul pembahasan tersebut, tentunya dibantu oleh kakak-kakak
volunteer yang membimbing tiap kelompok.
Pada puncak peringatan WWD di hari Minggu (22/03), adik-adik
Blangkrueng diminta untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelompok-kelompok
lain. Pintar, malu dan gaya bicara mereka membuat presentasiyang
berlangsung selama lebih kurang 30 menit itu menjadi seru. Selanjutnya kakak-kakak volunteer
mengajak adik-adik nonton bersama video animasi tentang siklus air di bumi dan
beberapa video mengenai kekurangan air yang terjadi di beberapa negara dunia.
Adik-adik Blangkrueng dapat melihat langsung kondisi dan akibat dari kekeringan
yang terjadi sehingga mereka lebih paham mengapa kita harus menjaga kebersihan
dan memanfaatkan air dengan sebaik mungkin.
Acara diberhentikan sementara kumandang adzan Ashar.
Beberapa menit setelah itu, peringatan WWD ini kembali dilanjutkan dengan
permainan outdoor yang dibuat oleh
kakak-kakak volunteer untuk adik-adik Blangkrueng. Permainan ini sederhana.
Adik-adik yang telah dibagi menjadi 4 kelompok diminta untuk memindahkan air
dari ember yang ada di depan mereka ke ember yang ada di ujung lainnya dengan jarak
yang telah diatur. Air-air tersebut dipindahkan dengan gelas plastik bekas minuman dengan syarat pemenangnya adalah kelompok yang memindahkan air
paling banyak dan jumlah air yang tumpahnya paling sedikit. Permainan berlangsung
seru. Adik-adik Blangkrueng menikmati games
yang juga dihebohkan dengan sorakan semangat dari kakak-kakak volunteer.
Matahari beranjak turun. Seakan mengabarkan bahwa malam akan
segera datang. Menjelang gelap, peringatan World Water Day hari itu ditutup
dengan sesi foto bersama dan sorakan jargon WWD 15 dari para volunteer dan
adik-adik Blangkrueng. Sederhana, tapi kami bahagia. Setidaknya paham tentang
ada hal kecil yang mesti dijaga untuk kepedulian terhadap sesama di dunia.
(El-A)
Disleksia adalah suatu kondisi yang menyebabkan anak sulit untuk membaca atau menulis. Disleksia juga merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penderita gangguan belajar pada anak usia sekolah adalah disleksia. Dan, uniknya angka kasus disleksia ini cenderung lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya gangguan yang dirasakan oleh anak-anak dengan disleksia tersebut. Apakah sulit mengingat huruf-huruf atau sulit membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya? Sebenarnya terdapat beberapa perbedaan yang dialami oleh anak-anak disleksia. Sebagian anak menyatakan ketika ia melihat tulisan, ia merasa tulisannya seperti pecah atau terputus. Ada pula yang merasa tulisannya seperti melayang-layang, terlihat kabur meskipun matanya tidak sakit, huruf-huruf yang terbalik, huruf-huruf dalam bentuk yang tidak sama besar, terlalu rapat, atau seperti bergelombang sehingga sulit untuk dibaca.
Disleksia sering juga disebut dengan 'word blindness'. Namun, sebenarnya tidak demikian. Anak-anak dengan disleksia dapat diajarkan untuk mengenal huruf-huruf dan angka. Banyak orang-orang sukses yang mengalami disleksia, contohnya saja Adam Levine, vokalis band ternama Maroon 5, atau penulis novel yang terkenal seperti Agatha Christie, bahkan seorang fisikawan yang teori-teorinya masih digunakan sampai sekarang ini, Albert Einstein.
Perlu diketahui bahwa kebanyakan anak-anak dengan disleksia memiliki IQ di atas rata-rata. Tapi, mungkin akan timbul pertanyaan lainnya, bagaimana bisa anak yang tidak dapat menghitung atau membaca bisa mendapatkan IQ yang tinggi? Dalam hal ini, otak dari anak yang mengalami disleksia tidak semuanya mengalami masalah atau dengan kata lain yang mengalami gangguan hanya pada area tertentu saja. Bisa jadi, yang terganggu hanya otak bagian sebelah kanan saja, yang menurut para ahli otak sebelah kanan berkaitan dengan kreativitas dan konseptualisasi.
Terkadang orang tua pun sering salah mengartikan kondisi anak. Orang tua atau guru sering salah memahami bahwa si anak memiliki IQ yang rendah atau lamban dalam belajar. Padahal, kesulitan belajar bisa saja disebabkan oleh disleksia. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk mengecek kemampuan anaknya sejak dini, termasuk pengecekan mata seperti membaca, tes buta warna, serta pengecekan pendengaran untuk memastikan tidak adanya gangguan seperti disleksia pada anak.
Namun demikian, bukan berarti anak-anak dengan disleksia ini tidak dapat belajar atau akan selamanya menjadi 'buta huruf'. Mereka bisa belajar dan menjadi orang yang sukses tergantung dengan cara orang tua ataupun guru menanganinya. Anak-anak disleksia butuh cara belajar yang khusus. Mereka tetap bisa diajarkan huruf-huruf serta angka-angka. Mereka juga dapat diajarkan cara menuliskan kata demi kata, hingga mampu membuat kalimat sampai menyusun paragraf. Pada awal-awal belajar, mungkin anak dengan disleksia akan kesulitan membedakan b dengan d, atau m dengan n, dan lain sebagainya. Juga akan sulit membedakan kata papa atau mama. Dan ketika mulai dapat menulis, tak jarang mereka akan menempatkan huruf dalam sebuah kata dengan terbalik atau salah menempatkan huruf, misalnya 'kambing' menjadi kmabign atau kamping. Namun, percayalah bahwa ketika kita meminta penjelasan atau meminta anak membacakan apa yang telah ia tuliskan, ia akan mampu untuk menyampaikannya dengan benar.
Yang jelas, memiliki anak dengan disleksia bukanlah suatu kesalahan atau masalah. Anak disleksia adalah anak istimewa, sama halnya dengan anak-anak yang lain. Anak disleksia hanya memiliki sedikit kesulitan dalam proses membaca atau menghitung. Oleh karena itu, orang tua harus dapat mengetahui dan memahami anaknya serta memastikan anaknya mendapatkan tenaga pengajar yang sesuai untuk menangani masalah disleksia tersebut. (SM)
Sumber referensi: The Little Book of Dyslexia, Joe Beech
Hari Minggu tiba, waktunya Rumput Liar beraksi!
Jarum jam menunjukkan pukul 14:23 WIB saat adik-adik peserta didik Rumput Liar mulai terlihat duduk manis di depan teras gedung balai desa. Senyum polos dan sapaan hangat dari mereka menyambut kakak-kakak relawan yang baru sampai.
Sebelum memulai pelajaran, adik-adik bersama para relawan bermain 'Kucing dan Tikus' bersama-sama di halaman balai desa. Permainan 'Kucing dan Tikus' ini adalah sebuah permainan yang mengharuskan para pemainnya saling berpegangan tangan satu sama lain untuk membuat lingkaran. Lalu, dengan satu orang menjadi Tikus, satu orang menjadi Kucing dan saling mengejar satu sama lain, melewati lingkaran yang dapat membuka dan menutup untuk melindungi si Tikus. Teriakan-teriakan dan tawa geli memenuhi lapangan balai desa. Semua terlihat ceria dan senang sebelum belajar dimulai.
Seusai bermain, belajar pun dimulai. Kami membaca doa sebelum memulai proses belajar. Lalu, seperti biasa, adik-adik dikelompokkan berdasarkan kelas dan duduk dalam lingkaran kelasnya masing-masing bersama kakak pengajarnya. Hari ini, anak-anak terlihat bersemangat mengikuti pengarahan dan pelajaran matematika yang diberikan oleh kakak pengajarnya. Mereka antusias sekali ketika menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan oleh kakak pengajarnya.
Tidak terasa, waktu belajar telah usai. Adik-adik dipersilahkan memasukkan peralatan tulis dan buku-buku mereka ke dalam tas masing-masing lalu bersiap untuk pulang. Namun, sebelum pulang adik-adik mendapatkan dua kejutan dari kakak-kakak relawan Rumput Liar. Kejutan pertama adalah sebuah lagu baru yang dengan sangat riang dinyanyikan bersama-sama hingga memecahkan tawa riang dalam ruangan. Kejutan kedua adalah masing-masing adik dibagikan satu kotak susu rasa coklat yang diberikan oleh donatur kepada Komunitas Rumput Liar. Mereka sangat senang dan menghabiskan susu yang diberikan dengan lahap.
Bahagia dan membahagiakan orang itu ternyata sederhana. Keceriaan yang didapat dari senyum bahagia adik-adik peserta didik kami adalah hal yang paling kami tunggu-tunggu di setiap jadwal kami mengajar di Desa Blangkrueng. Karena berbagi senyuman adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan dan sebagai perwujudan bentuk cinta kami yang paling dalam kepada adik-adik kami di Desa Blangkrueng. (SM/DP)
Photo taken by: Dony Prasetyo
Belajar tidak selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kadang-kadang, belajar menjadi sesuatu yang membosankan atau berat untuk dilakukan. Ada saatnya ketika anak-anak bahkan kita sendiri merasa kesulitan selama berjam-jam lamanya untuk menerima informasi baru atau mempelajari suatu keterampilan yang baru.
Ada pula suatu ketika di mana pikiran kita berkata, "Saya tidak bisa melakukan ini. Ini sangat susah!", lalu kita mulai merasa cemas, frustasi dan merasa kurang berbakat atau kurang pintar. Namun, percayalah bahwa semua orang pernah merasakan hal yang serupa.
Pada kasus ini, keterampilan dan ketekunan seorang guru sangatlah diperlukan. Guru harus dengan tekun mendidik murid-muridnya agar mereka mencintai proses belajar itu sendiri dan meyakinkan muridnya bahwa tiap-tiap mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang mereka dapatkan. Seorang guru harus meyakinkan dirinya sendiri serta muridnya bahwa tantangan demi tantangan yang dirasakan oleh muridnya tersebut akan membuat mereka menjadi lebih kuat, lebih pandai dan akan lebih nyaman dalam proses belajar ke depannya. Seperti saat kita kecil dahulu, kita mendapatkan tugas untuk menghafalkan perkalian dari 1 sampai 10, ditambah lagi dengan berbagai tugas rumah pelajaran lainnya yang harus di selesaikan dalam waktu yang bersamaan. Kita tahu bahwa menjalani berbagai kesulitan ataupun tantangan dalam proses belajar itu sebenarnya memang tidak mudah bagi anak-anak. Namun, kebanggan dan kebahagiaan yang akan dirasakan ketika tantangan tersebut diselesaikan dan mendapatkan manfaat ilmu pengetahuan yang baru dari proses belajarnya.
Pelajaran seperti matematika, ilmu sains, sejarah, dan pelajaran menulis memang pelajaran yang penting untuk diajarkan. Namun, kita juga harus mengingat bahwa dalam proses belajar setiap anak mempunyai cara ataupun ciri-ciri tersendiri untuk menerima, mengolah dan memahami ilmu yang diajarkan serta memiliki batasan-batasan dalam proses belajarnya. Ada anak-anak yang lebih mudah jika belajar menggunakan gambar atau video, ada anak yang lebih senang mendengarkan gurunya menjelaskan, atau ada pula anak yang dapat mengerti hanya dengan membaca saja. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing dan seorang guru harus bisa mengerti dan mencoba untuk memfasilitasi kebutuhan murid-muridnya.
Ketika belajar terasa tidak menyenangkan, kita bisa mencoba untuk memberikan dorongan dan motivasi kepada anak. Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memberikan dorongan dan motivasi agar mereka kembali belajar dengan gembira adalah sebagai berikut:
Ceritakan tentang perjuangan kita dalam belajar saat kita masih seusia mereka dulu. Ceritakan perasaan kita pada saat itu, misalnya pengalaman kita saat kesulitan menghafal perkalian atau pembagian. Lalu, jangan lupa menceritakan solusi untuk permasalah tersebut dan ceritakan perasaan kita ketika kita telah berhasil melewati kesulitan tantangan tersebut.
Berikan kesempatan pada anak-anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Dengan cara itu, guru dapat mengidentifikasi penyebab dari kesulitan yang mereka alami. Untuk anak yang lebih dewasa, kita dapat menggunakan teknik diskusi untuk mencari masalah dan solusi masalahnya bersama-sama.
Tempelkan beberapa poster dengan warna-warni dan gambar menarik di dalam kelas atau ruangan belajar anak dengan berbagai kalimat yang mudah dipahami dan bermakna, misalnya "Rajin Pangkai Pandai", "Belajarlah agar cita-citamu tercapai," atau "Bila kamu tidak tahan lelahnya belajar maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan." (-Imam Syafi'i)
Untuk anak yang lebih dewasa atau usia remaja, kita bisa mencoba memberikan beberapa buku bacaan inspiratif tentang orang-orang sukses yang dulunya pernah mengalami berbagai kegagalan.
Terakhir, tetap berikan dorongan dan semangat pada anak agar mereka tetap berusaha meskipun mereka pernah merasa kecewa atas kegagalan yang pernah dilaluinya. Kita bisa membantu dengan memberikan fasilitas yang lain atau menggunakan metode mengajar yang lain agar anak-anak mendapatkan suasana belajar yang baru dan menjadi lebih bersemangat untuk mencoba kembali.
Selain itu, seorang guru harus dengan sabar dan dengan penuh kasih sayang membimbing 'perjuangan' murid-muridnya. Jangan pernah membiarkan murid kita meyakini bahwa kegagalan adalah akhir dari perjuangannya. Yakinkan murid kita bahwa setiap kegagalan yang pernah mereka lalui akan menjadi pengalaman berharga dan mereka dapat mencoba kembali dari awal. Percayalah bahwa setiap murid yang kita ajarkan akan menjadi orang-orang hebat di masa mendatang. Dan tetaplah mengajarkan dan mendidik anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. (SM)
Source by: Michael Connolly, Teaching Kids to Love Learning, Not Just Endure It