Photo by Bunga Raihanda




Beberapa minggu terakhir ini, kakak-kakak volunteer dari Rumput Liar tengah disibukkan dengan kegiatan mengunjungi beberapa sekolah yang ada di Aceh Besar dan sekitarnya. Tujuannya adalah menjelaskan dan mengenalkan mengenai apa itu cita-cita dan apa saja ragam cita-cita kepada adik-adik di sekolah tersebut. Nah, bagi yang mengikuti linimasa Rumput Liar seperti twitter, facebook dan instagram pasti tahu kan bagaimana keseruan kegiatan ini. Sebenarnya bagaimana sih kegiatan pengenalan cita-cita itu?
Kegiatan ini sebenarnya bernama Next Gen 15 Mission. Kegiatan ini merupakan sebuah misi yang diusung oleh Rumput Liar untuk menghimpun cita-cita 1500 adik-adik sekolah dasar yang ada di Aceh. Jadi setelah dijelaskan dan dikenalkan mengenai beragam cita-cita oleh para volunteer, adik-adik tersebut diminta untuk menuliskan cita-citanya di atas kertas, kemudian digulung dan kertas-kertas tersebut dimasukan ke dalam tabung atau yang dinamakan Kapsul Waktu. Nantinya, kapsul waktu ini akan dibuka 15 tahun yang akan datang untuk melihat apakah cita-cita mereka terwujud atau malah meraih cita-cita yang lebih baik lagi.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah merangsang semangat belajar dari adik-adik untuk meraih cita-cita yang telah mereka masukkan ke dalam Kapsul Waktu tersebut. Harapannya agar mereka termotivasi untuk mewujudkan dan memfokuskan diri untuk meraih apa yang mereka inginkan. Sementara untuk pelaksanaan kegiatan ini sekolah yang dituju hanya dipilih secara acak dengan porsi 40% Sekolah Dasar dengan akreditasi C, 35% Sekolah Dasar dengan akreditasi B dan 25% Sekolah Dasar dengan akreditasi A. Kegiatan ini rutin dilaksanakan sebanyak dua kali setiap bulannya di hari Sabtu.
Harapan dari diadakannya kegiatan ini adalah volunteer yang terlibat dalam kegiatan bisa bersungguh-sungguh dalam memotivasi adik-adik untuk menentukan dan meraih cita-cita mereka. Sementara adik-adik tersebut mendapatkan manfaat dari kegiatan dan penjelasan dari para volunteer. [NNP]

Photo by Bunga Raihanda


Seorang politikus akan sibuk menyuarakan aspirasinya, seorang pemburu berita terus sibuk menggoreskan penanya. Semua mendapatkan porsi dalam konspirasi pembangunan negeri, berbagai fasilitas umum dibangun, ribuan lembar rupiah terkuras setiap menit. Ditambah beragam kritikan antar petinggi negri terus disiarkan di berbagai media massa.
Sungguh epik kisah pembangunan ibu pertiwi, sebab bagi seorang anak kecil di pinggiran jalan, Indonesiaku tetap sama. Indonesia yang dilihatnya hanyalah jalanan berdebu di bawah teriknya matahari, menahan tangis sambil mengais rezeki melalui uluran tangan mereka yang berkendaraan mewah.
Hari ini, seluruh penjuru nusantara bersemangat menyerukan kemerdekaan negeri ini, larut dalam suka cita merah putih. Merdeka!
Namun hati kecil kami terusik menyaksikan euforia 17 Agustus, sungguh disayangkan mereka sering menutup mata untuk melihat potret nyata Indonesiaku, benarkah rakyat negeri ini sudah merdeka? Apakah rakyat membutuhkan kemerdekaan dari kebodohan dan merdeka dari kemiskinan, atau cukup sebatas Indonesiaku yang merdeka dari tangan penjajah? Ya, mungkin saja pemimpinku sedang kesulitan untuk melihat potret nyata pendidikan yang masih memprihatinkan. Terlalu sibuk memikirkan urusan negara yang entah diperuntukkan bagi kepentingan siapa. Kenyataannya sederhana, anak-anak di pinggiran kota masih saja buta aksara, berjuang sendirian untuk bertahan hidup.
Lantas dimanakah kemerdekaan Indonesiaku?

Mungkin benar, pemimpinku saat ini sedang terlalu sibuk sehingga melewatkan nasib pendidikan rakyatnya. Untuk itu kami yang terketuk hati untuk peduli pada pendidikan anak saling menyapa dan bahu-membahu, bergerak bersama untuk turun langsung ke lokasi yang masih membutuhkan bantuan pendidikan. Meski terhitung baru memulai, namun RumputLiar secara konsisten mengadakan kegiatan untuk membantu pendidikan di dua lokasi berbeda setiap minggunya.
Lokasi pertama yang dipilih untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar mingguan adalah Gampong Blangkrueng, Aceh Besar. Program tersebut sudah berjalan hampir dua tahun dan mendapatkan respon positif dari tokoh masyarakat setempat dan orang tua anak.
Lokasi kedua dipilih setelah program mengajar 1 tahun berjalan sukses, sejumlah relawan siap sedia bergabung untuk turun langsung mengajarkan beberapa pelajaran di Gampong Lamanyang, Aceh Besar.
Kedua lokasi yang dipilih merupakan lokasi yang cukup strategis karena tidak terlalu jauh dari perkotaan, namun kurang mendapat perhatian dari segi pendidikan anak.

"Dalam konteks ke-Aceh-an, 71 tahun Indonesia merdeka dan 11 tahun Perdamaian Aceh, pendidikan di Aceh masih terlihat sangat miris, dimana belum adanya keadilan dalam pemerataan kualitas pendidikan. Sebagai gambaran, di daerah pedesaan pelosok dan terpencil masih terpasang spanduk sekolah bebas biaya bahkan memberikan perlengkapan sekolah bagi murid yang mau mendaftar di sekolah tersebut. Sementara di perkotaan para orang tua berlomba mendaftarkan anak ke sekolah yang biaya perbulannya sangat tinggi.
Jika memang pemerintah, khususnya daerah Aceh beriktikad baik dalam memperbaiki kualitas pendidikan Aceh, maka seharusnya program penyetaraan atau memperkecil kasta sekolah yang ada di kota dan desa bisa dilakukan. Sehingga tercipta kualitas pendidikan A dan B+ di seluruh sekolah hingga pelosok Aceh. Demi generasi Aceh yg lebih baik." opini MR. Satria selaku perintis Komunitas RumputLiar setelah menelusuri potret pendidikan beberapa daerah terpencil di Aceh.

71 Indonesia merdeka, besar harapan kami, ada lebih banyak lagi relawan yang bersedia gotong-royong memperbaiki pendidikan bangsa ini. Demi Indonesia yang lebih baik. [NF].
Kegiatan Belajar-Mengajar di Blangkrueng (Sumber : MR. SATRIA)
Yuk, Nabung Pahala!


Menjelang bulan Ramadhan, kali ini Komunitas Rumput Liar kembali mengadakan event yang mengajak teman-teman semua untuk saling berbagi dan menabung pahala sebanyak-banyaknya. Event 'Yuk, Nabung Pahala untuk Meunasah Desa Lam Manyang' ini diselenggarakan mulai dari tanggal 2 Mei sampai dengan 4 Juni 2016. Komunitas Rumput Liar mengajak teman-teman semua untuk menabung pahala dengan cara menyumbangkan berbagai perlengkapan ibadah seperti mukena, sajadah, Al Quran, iqra, dan lain-lain. Sumbangan dari teman-teman nantinya akan didonasikan ke Meunasah Desa Lam Manyang, Aceh Besar. 

Bagi teman-teman yang ingin menyumbangkan perlengkapan ibadah silakan menghubungi contact person (CP) atau dapat langsung mengirimkan sumbangan perlengkapan ibadah ke alamat yang tertera pada poster di atas. 

Kami tidak memungut biaya apapun dan siap menerima sumbangan dari teman-teman berapapun jumlahnya. InsyaAllaah, sumbangan yang akan teman-teman donasikan nanti akan sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menggunakannya. 

Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.―HR Tirmidzi 

One Book One Experience (For Lam Manyang)


Setelah sukses di tahun pertama, Komunitas Rumput Liar kembali mengadakan program pengumpulan buku. Di tahun kedua ini setiap buku yang Anda sumbangkan akan didonasikan ke Desa Lam Manyang, yang menjadi fokus lokasi kedua kegiatan Komunitas Rumput Liar. Bagi Anda yang berminat ingin menyumbangkan buku, silakan menghubungi nomor CP (contact person) yang ada atau Anda bisa mengirimkan buku yang ingin Anda sumbangkan ke alamat yang tertera pada poster. Buku yang diterima berupa buku pelajaran sekolah, majalah, buku kumpulan cerpen atau komik serial anak (untuk usia 5-12 tahun). 

Mari bersama-sama kita terbarkan pahala dan melukis senyum calon-calon pemimpin bangsa melalui program One Book One Experience. Terima kasih.



Salam Hangat,


Komunitas Rumput Liar

Memiliki anak yang mencintai Al-quran, tentu menjadi impian setiap orang tua. Anak yang sejak dini mencintai dan terbiasa membaca Al-quran akan lebih mudah untuk menjadikan Al-quran sebagai pedoman hidupnya. 

Rasulullah Muhammad SAW pun berpesan, dalam hadits Shahih Bukhari:

Bebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-quran dan mengajarkannya (H.R. Bukhari).

Ternyata ada begitu banyak keutamaan bagi mereka yang membaca dan menghafalnya salah satunya adalah memiliki hak untuk memberi syafaat (pertolongan) kepada sepuluh orang anggota keluarganya sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits:

Dari Ali Ibn Abi Thalib ra., ia berkata Rasulullah saw., bersabda: Barangsiapa membaca Al-quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya dalam syurga dan memberikan syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya dimana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka (HR. Ibnu Majah).
Berikut adalah beberapa tips yang mungkin dapat diikuti,

  1. Mulai dari diri orang tua untuk mencintai Al-quran terlebih dahulu. Jika ditanya kepada setiap orang tua apakah mereka menginginkan agar anaknya menghafal Al-quran tentu jawaban mereka semua adalah mau. Namun ada hal penting lagi yang perlu kita tanyakan, sudahkah para orang tuanya mencintai dan mencoba juga untuk menghafal Al-quran? Jika jawabannya belum maka sudah semestinya kita para orang tua yang memulainya terlebih dahulu untuk mencintai Al-quran, banyak membaca Al-quran, mencoba memahami setiap makna yang terkandung didalamnya serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari. Sebab orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak, dan pembelajaran terbaik bagi seorang anak adalah keteladanan.
  2. Ciptakan kondisi yang mendukung untuk mencintai Al-quran dalam keluarga. Untuk menghafal Al-quran tidak cukup hanya semangat, dan kemauan yang kuat saja. Tapi juga butuh lingkungan yang kondusif untuk menghafal Al-quran. Maka untuk ini konteksnya adalah keluarga, tugas orang tua adalah menciptakan lingkungan yang mendukung untuk menghafal Al-quran dalam keluarga tersebut. Menciptakan kondisi agar anak tidak terlalaikan oleh hal-hal lain yang bersifat mubazir dan banyak mudharatnya akan tetapi menjadi lebih fokus pada Al-quran. Beberapa sahabat yang kami temui mereka menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif sebagai tempat menghafal Al-quran dengan cara menjauhkan rumahnya dari musik-musik serta tontonan-tontonan yang banyak mudharatnya. Sehingga mereka memilih tidak memiliki televisi dan menyetel musik-musik melalui media apapun dirumahnya.
  3. Menjadwalkan waktu dan ruang khusus untuk Al-quran bersama keluarga. Tips yang ketiga adalah menciptakan waktu khusus untuk Al-quran bersama keluarga. Dimana di waktu khusus tersebut tidak ada aktivitas lain kecuali membaca Al-quran, kecuali mentadaburi ayat-ayat Al-quran, kecuali setor hafalan, kecuali saling mengingatkan agar sama-sama bersemangat dalam membaca, memahami serta menghafal Al-quran. Sebagai contoh mengambil waktu khusus sehabis shalat subuh dan sehabis shalat magrib. Rutinkan dan dibiasakan setiap hari.
  4. Mempelajari banyak motivasi dan keteladanan agar lebih mencintai Al-quran. Selanjutnya adalah, mempelajari tokoh-tokoh baik itu sahabat, para ulama, para mujahid Islam yang hafidz Al-quran, mempelajari kehidupan mereka dan menjadikannya sebagai teladan dan inspirasi untuk lebih bersemangat dalam mencintai Al-quran. Kisah-kisah inipun mesti kita ceritakan kepada anak-anak kita, sehingga anak-anak kita sejak dini sudah memiliki cita-cita menjadi ahli qur’an.
  5. Menghiasi hari-hari dalam kehidupan keluarga dengan Al-quran. Yang kelima, atau ini juga yang terakhir adalah menghiasi hari-hari kita dengan lantunan ayat suci Al-quran. Membiasakan ayat-ayat suci Al-quran melantun menemani anak-anak kita dalam menghabiskan hari-harinya.
Tips-tips di atas dapat pula dibiasakan pada diri kita sebab semakin kita terbiasa dengan membaca Al-quran maka akan semakin mudah pula diri kita untuk mencintai Al-quran dan menjadikannya sebagai pedoman hidup kita. Semoga dengan tips ini membuat kita semakin termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke harinya dan semakin mendekatkan diri kita kepada Allah. 


source by: www.elmina-id.com

Rumput Liar kembali melakukan aksi sosial yaitu Rumput Liar Goes to School. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 21 November 2015 berlokasi di SD Negeri 19 Rukoh, Aceh Besar. Kegiatan Rumput Liar Goes to School ini berbasis pada kegiatan peduli lingkungan serta kesehatan tubuh. Kegaitan aksi sosial Komunitas Rumput Liar sepenuhnya dilaksanakan oleh para volunteer Generasi I dan Generasi II dengan tema 'Bintang Kecil Peduli Lingkungan'. 

Kegiatan Bintang Kecil Peduli lingkungan terbagi ke dalam beberapa rangkaian acara. Kegiatan dimulai dengan pembukaan oleh ketua umum Komunitas Rumput Liar, kemudian disusul dengan kata pembukaan dari perwakilan Komunitas Aceh Bangun Lestari (ABL), dan terakhir ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Kepala Sekolah SDN 19 Rukoh. Acara selnajutnya diserahkan kepada kakak-kakak volunteer Generasi I dan Generasi II Komunitas Rumput Liar. 


Pada kegiatan selanjutnya, para volunteer yang sudah terbagi dalam beberapa kelompok pemain skenario drama pun memperagakan berbagai aksi dan prilaku peduli lingkungan serta prilaku menjaga kesehatan sederhana dalam bentuk skenario drama yang ringkas dan menarik di depan siswa-siswi SD Negeri 19 Rukoh. Anak-anak diajak untuk ikut berinteraksi dalam setiap skenario dengan menyanyikan lagu atau dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. 



Selain pementasan skenario drama singkat, kegiatan lain yang dilakukan adalah penyelenggaraan beberapa perlombaan yang bertemakan peduli lingkungan. Perlombaan tersebut meliputi perlombaan membuat kerajinan tangan dari bahan dasar botol bekas dan kaleng bekas untuk anak kelas 3 dan 4 SD, serta perlombaan mengutip sampah yang ada di halaman sekolah yang dilakukan dalam bentuk kelompok-kelompok untuk anak kelas 5 dan 6. Terakhir adalah pembagian hadiah bagi siswa yang memenangkan perlombaan serta pembagian souvenir bagi seluruh siswa SDN 19 Rukoh, Aceh Besar. 



Kegiatan Bintang Kecil Peduli Lingkungan ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dan mampu mengajak siswa-siswi, khususnya siswa-siswi SD Negeri 19 Rukoh, untuk lebih menyayangi dan peduli terhadap lingkungannya serta menambah pengetahuan bagi anak-anak dalam berprilaku menjaga kesehatan dimulai dari yang paling sederhana seperti kebiasaan mencuci tangan dengan baik dan benar. 


Project Management (PM) 
Chief: Zee Trina
- Cut Atika Putri
- Ichwan Azmi
- Suci Riski Tami

Creative and Innovative Management
Chief: Nedia Nirwanti & Maisarah
- Cut Nurul Zahria
- Lisa Pira Ariska
- Irhamna M. Jamil
- Riyan Mudastsir

Partnership and Fundraising Manangement
Chief: Lisa jafia Sari
- Imam Al Farisyi
- Muhammad Asril
- Raihan Ramadhani

Media,Information and Technology
Chief: Syarifah Muhira & Farida
- Monaris Daralina
- Muhammad Hafidh Ilmi

Human Resources Empowerment
Chief : Cut Kandil
- Sasni Andrika
- Novika Wahyuni
- Mazaya Khalila Muna

Volunteering Management
Chief: Syarifah Nabila Z.
- Muhajir
- Baizar Zulmi
- Yusra Maulina



Selamat kepada teman-teman yang terpilih menjadi anggota divisi Komunitas Rumput Liar untuk Generasi ke-2. Pemilihan ini dilakukan dengan sebaik-baiknya dan dengan sangat teliti oleh panitia pelaksana Open Recruitment Komunitas Rumput Liar Generasi ke-2. Penilaian ini didasarkan oleh hasil tes wawancara dan komitmen teman-teman yang telah diobservasi dan didiskusikan bersama oleh para panitia. Semoga dengan diberikannya kepercayaan kepada teman-teman agar ikut mengelola Komunitas Rumput Liar untuk jangka waktu setahun kedepan dapat membuahkan hasil yang maksimal dan memberikan banyak manfaat bagi lingkungan sekitar. Semangat berbagi, semangat menginspirasi!




Salam Hangat,


Admin Komunitas Rumput Liar

  1. Ayu Selvi Mansyur
  2. Irhamna M. Jamil
  3. Muhajir
  4. Yusra Maulina
  5. Sasni Andrika
  6. Cut Nurul Zahria Mardian
  7. Lisa Pira Ariska
  8. Raihan Ramadhani
  9. Asmaur Ridhana Zuhra
  10. Dini Ervina
  11. Sayed Mabrur
  12. Raisah Azhary
  13. Muhammad Hafidh Ilmi
  14. Julita Sari
  15. Hafni Ayu Dewi Manurung
  16. Ichwan Azmi
  17. Putri Mawadhatul Fajri
  18. Dicky Putra Fajar
  19. Mazaya Khalila Muna
  20. Debby Octavia
  21. Anggun Maulida Nengsih
  22. Tata Aprianita
  23. Rinal Khairunnas
  24. Muhammad Asyraf
  25. Fahmi Rija Arhas
  26. Yesi Ana Aariati
  27. Maghfirah
  28. Izzati Lathifah
  29. Suci Rizki Tami
  30. Monaris Daralina
  31. Marina Putri
  32. Cut Atika Putri
  33. Novika Wahyuni
  34. Saddam
  35. Muhammad Asril
  36. Novi Yanti
  37. Meilia Puspita
  38. Baizar Zulmi
  39. Maulizasari
  40. Imam Al Farisyi
  41. Ida Fajri
  42. Ayu Widayanti
  43. Riyan Mudastsir


Selamat kepada teman-teman yang mendapatkan kesempatan untuk bergabung menjadi Generasi ke-2 Komunitas Rumput Liar! Untuk informasi terkait agenda atau informasi lainnya silakan memantau akun facebook Rumput Liar atau dapat juga menghubungi contact person Komunitas Rumput Liar. 




Mari Berbagi, Mari Menginspirasi



Admin Rumput Liar


Selamat Pagi Minggu Rumputers! Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mendaftarkan diri menjadi kandidat Generasi ke-2 Komunitas Rumput Liar. Pendaftaran untuk periode ini sudah ditutup dan untuk tahap selanjutnya bagi teman-teman yang sudah mendaftar, yaitu tahap interview, insya Allah akan dilakukan selama dua hari yaitu tanggal 17-18 Oktober 2015 pukul 14:00 - 17:45 WIB. Untuk informasi lebih lanjut mengenai lokasi ataupun adanya perubahan agenda lainnya teman-teman bisa terus memantau akun facebook Rumput Liar dan blog: rumahrumputliar.blogspot.com. Happy weekend! *cheers*
26 April 2015,

Hari Minggu, langit cerah, pasir putih dan laut biru menjadi sarapan pagi kami. Hari ini kelas di Blangkrueng sengaja diliburkan khusus untuk memberikan hari kosong kepada para relawan Rumput Liar. Di hari kosong ini, para relawan sepakat untuk berpiknik di Pantai Pulau Kapuk, Aceh Besar. 

Persiapan dilakukan kurang lebih dua minggu sebelum hari H tiba. Mulai dari merencanakan waktu dan lokasi wisata, sampai menentukan barang-barang apa saja yang harus dibawa. Semua relawan pun dipersilakan untuk memilih beberapa pilihan tempat wisata yang terdapat di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar. Namun, setelah proses voting, pilihan kami pun berakhir di Pantai Pulau Kapuk, Lhoknga. 

Bekal makanan, minuman segar, bahkan rujak buah menjadi santapan siang kami. Semua relawan terlihat lahap menghabiskan makanannya masing-masing. Kami duduk bersama dalam satu lingkaran besar sehingga wajah-wajah saling bertatapan. Kami bersenda gurau disela-sela makan siang kami, bercerita tentang ini dan itu, lalu tertawa bersama. Sungguh menyenangkan!

Seusai makan siang, azan Zuhur pun menghentikan kegiatan kami sesaat untuk menghadap Sang Ilahi. Lalu, satu per satu relawan Rumput Liar yang sudah selesai menunaikan shalat Zuhur kembali merapat ke dalam pondok-pondok kecil yang ada di bibir pantai. Santapan kedua mulai dikeluarkan, rujak buah.

Perut sudah kenyang, saatnya bermain. Alat-alat permainan dikeluarkan. Peraturan dibacakan dan peserta ditentukan. Saat itu, langit mulai mendung. Namun, kami tetap melanjutkan permainan kami bahkan saat hujan mulai turun agak deras. 

Permainannya sederhana. Potongan pipa yang dibelah dua, lalu dialirkan oleh sebuah bola pingpong. Peserta harus mempertahakan bola pingpong di atas pipa sambil mereka membawanya ke garis finish pertama, lalu membawanya kembali ke garis start awal. Teriakan-teriakan memberi semangat pada tim yang sedang bermain pun menambah keseruan. 






Permainan kedua yaitu memasukkan paku ke dalam sebuah botol. Namun, kali ini persertanya terdiri dari 10 orang. Pingang mereka diikat dengan sepotong tali, lalu tali-tali itu disatukan untuk mengikat sebuah paku. Botol bekas ditancapkan di pasir pantai dan pemain harus berjalan sekitar 4 meter dari garis awal mereka berada. Permainan ini membutuhkan kerja sama antara pemain-pemainnya. Harus ada yang mengalah untuk berjongkok, lalu menarik tubuhnya sedikit ke kanan atau ke kiri, maju atau mundur, agar paku dapat masuk ke dalam mulut botol. 




Setelah lelah bermain, kami pun berfoto bersama. Piknik hari ini sungguh menyenangkan. Piknik bersama ini membuat kami semakin mengenal satu sama lain dan memberikan sedikit reward pada para relawan atas kerja keras yang mereka lakukan selama ini. Kebahagiaan bertambah lagi dengan sebuah kejutan di akhir piknik. Masing-masing relawan mendapatkan postcard cantik dengan foto-foto mereka bersama adik-adik di Desa Blangkrueng. Alhamdulillah, piknik berjalan lancar dan semuanya bahagia. 





Kenangan tidak dapat diulang untuk kemarin, tidak dapat sama dengan esok atau lusa. Karena kebersamaan hari ini belum tentu dapat dirasakan lagi di lain waktu. —ms.


Blangkrueng-(Senin, 23/03) Sisa kebersamaan kemarin Minggu sore itu masih terasa. Keseruan bermain antara kakak-kakak relawan dan adik-adik Desa Blangkrueng untuk menghabiskan sisa hari itu amat menyenangkan. Suasana berbeda dengan hari-hari mengajar biasanya membuat gelak tawa serta jalinan kekompakan para volunteer dan adik-adik Blangkrueng sore itu menyenangkan. Panas terik yang ikut bermain tidak membuat kalah semangat mengajar dan kebersamaan semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Sore itu kami memperingati World Water Day 2015 yang juga diperingati oleh beberapa negara di seluruh dunia. Hari itu merupakan puncak dari perinngatan WWD di Blangkrueng setelah seminggu sebelumnya WWD ini disosialisasikan kepada adik-adik Blangkrueng. Selain itu WWD ini juga disosialisasikan kepada berbagai pihak diluar komunitas sendiri sebagai bentuk apresiasi bersama dalam memperingati World Water Day pada tahun ini. 

Komunitas Rumput Liar juga turut mengadakan photo challenge yang meminta tema #WaterIs untuk kemudian di-upload di beberapa sosial media. Challenge ini selain untuk mengenalkan Komunitas Rumput Liar yang hadir di tengah masyarakat juga untuk menarik perhatian banyak orang agar lebih peduli terhadap kepentingan air untuk dunia. Pemenang photo challenge ini akan dipilih berdasarkan banyaknya jumlah voting oleh volunteer Rumput Liar sendiri dan yang beruntung akan mendapatkan merchandise dari adik-adik Desa Blangkrueng, Aceh Besar. 

Selain photo challenge ini, di pertemuan mengajar sebelumnya para volunteer juga memperkenalkan kepada adik-adik Blangkrueng tentang pembahasan dasar mengenai apa itu air, manfaat air, siklus air, penyaringan air dan beberapa pokok bahasan lainnya. Adik-adik desa Blangkrueng dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari lebih kurang 5 orang. Tiap kelompok dibimbing oleh 3-5 orang kakak-kakak volunteer untuk menjelaskan kepada mereka tentang judul pembahasan air yang mereka dapatkan. Setelah itu, mereka diminta untuk mempersentasikan secara sederhana tulisan yang mereka buat di atas kertas karton hitam dan tempelan-tempelan kertas origami yang menjelaskan tentang pemahaman mereka mengenai judul pembahasan tersebut, tentunya dibantu oleh kakak-kakak volunteer yang membimbing tiap kelompok.

Pada puncak peringatan WWD di hari Minggu (22/03), adik-adik Blangkrueng diminta untuk mempresentasikan hasilnya di depan kelompok-kelompok lain. Pintar, malu dan gaya bicara mereka membuat presentasi yang berlangsung selama lebih kurang 30 menit itu menjadi seru. Selanjutnya kakak-kakak volunteer mengajak adik-adik nonton bersama video animasi tentang siklus air di bumi dan beberapa video mengenai kekurangan air yang terjadi di beberapa negara dunia. Adik-adik Blangkrueng dapat melihat langsung kondisi dan akibat dari kekeringan yang terjadi sehingga mereka lebih paham mengapa kita harus menjaga kebersihan dan memanfaatkan air dengan sebaik mungkin.

Acara diberhentikan sementara kumandang adzan Ashar. Beberapa menit setelah itu, peringatan WWD ini kembali dilanjutkan dengan permainan outdoor yang dibuat oleh kakak-kakak volunteer untuk adik-adik Blangkrueng. Permainan ini sederhana. Adik-adik yang telah dibagi menjadi 4 kelompok diminta untuk memindahkan air dari ember yang ada di depan mereka ke ember yang ada di ujung lainnya dengan jarak yang telah diatur. Air-air tersebut dipindahkan dengan gelas plastik bekas minuman dengan syarat pemenangnya adalah kelompok yang memindahkan air paling banyak dan jumlah air yang tumpahnya paling sedikit. Permainan berlangsung seru. Adik-adik Blangkrueng menikmati games yang juga dihebohkan dengan sorakan semangat dari kakak-kakak volunteer.

Matahari beranjak turun. Seakan mengabarkan bahwa malam akan segera datang. Menjelang gelap, peringatan World Water Day hari itu ditutup dengan sesi foto bersama dan sorakan jargon WWD 15 dari para volunteer dan adik-adik Blangkrueng. Sederhana, tapi kami bahagia. Setidaknya paham tentang ada hal kecil yang mesti dijaga untuk kepedulian terhadap sesama di dunia. (El-A)
Disleksia adalah suatu kondisi yang menyebabkan anak sulit untuk membaca atau menulis. Disleksia juga merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80 persen penderita gangguan belajar pada anak usia sekolah adalah disleksia. Dan, uniknya angka kasus disleksia ini cenderung lebih tinggi pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana sebenarnya gangguan yang dirasakan oleh anak-anak dengan disleksia tersebut. Apakah sulit mengingat huruf-huruf atau sulit membedakan antara satu huruf dengan huruf lainnya? Sebenarnya terdapat beberapa perbedaan yang dialami oleh anak-anak disleksia. Sebagian anak menyatakan ketika ia melihat tulisan, ia merasa tulisannya seperti pecah atau terputus. Ada pula yang merasa tulisannya seperti melayang-layang, terlihat kabur meskipun matanya tidak sakit, huruf-huruf yang terbalik, huruf-huruf dalam bentuk yang tidak sama besar, terlalu rapat, atau seperti bergelombang sehingga sulit untuk dibaca.





Disleksia sering juga disebut dengan 'word blindness'. Namun, sebenarnya tidak demikian. Anak-anak dengan disleksia dapat diajarkan untuk mengenal huruf-huruf dan angka. Banyak orang-orang sukses yang mengalami disleksia, contohnya saja Adam Levine, vokalis band ternama Maroon 5, atau penulis novel yang terkenal seperti Agatha Christie, bahkan seorang fisikawan yang teori-teorinya masih digunakan sampai sekarang ini, Albert Einstein.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan anak-anak dengan disleksia memiliki IQ di atas rata-rata. Tapi, mungkin akan timbul pertanyaan lainnya, bagaimana bisa anak yang tidak dapat menghitung atau membaca bisa mendapatkan IQ yang tinggi? Dalam hal ini, otak dari anak yang mengalami disleksia tidak semuanya mengalami masalah atau dengan kata lain yang mengalami gangguan hanya pada area tertentu saja. Bisa jadi, yang terganggu hanya otak bagian sebelah kanan saja, yang menurut para ahli otak sebelah kanan berkaitan dengan kreativitas dan konseptualisasi. 

Terkadang orang tua pun sering salah mengartikan kondisi anak. Orang tua atau guru sering salah memahami bahwa si anak memiliki IQ yang rendah atau lamban dalam belajar. Padahal, kesulitan belajar bisa saja disebabkan oleh disleksia. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk mengecek kemampuan anaknya sejak dini, termasuk pengecekan mata seperti membaca, tes buta warna, serta pengecekan pendengaran untuk memastikan tidak adanya gangguan seperti disleksia pada anak. 

Namun demikian, bukan berarti anak-anak dengan disleksia ini tidak dapat belajar atau akan selamanya menjadi 'buta huruf'. Mereka bisa belajar dan menjadi orang yang sukses tergantung dengan cara orang tua ataupun guru menanganinya. Anak-anak disleksia butuh cara belajar yang khusus. Mereka tetap bisa diajarkan huruf-huruf serta angka-angka. Mereka juga dapat diajarkan cara menuliskan kata demi kata, hingga mampu membuat kalimat sampai menyusun paragraf. Pada awal-awal belajar, mungkin anak dengan disleksia akan kesulitan membedakan b dengan d, atau m dengan n, dan lain sebagainya. Juga akan sulit membedakan kata papa atau mama. Dan ketika mulai dapat menulis, tak jarang mereka akan menempatkan huruf dalam sebuah kata dengan terbalik atau salah menempatkan huruf, misalnya 'kambing' menjadi kmabign atau kamping. Namun, percayalah bahwa ketika kita meminta penjelasan atau meminta anak membacakan apa yang telah ia tuliskan, ia akan mampu untuk menyampaikannya dengan benar. 

Yang jelas, memiliki anak dengan disleksia bukanlah suatu kesalahan atau masalah. Anak disleksia adalah anak istimewa, sama halnya dengan anak-anak yang lain. Anak disleksia hanya memiliki sedikit kesulitan dalam proses membaca atau menghitung. Oleh karena itu, orang tua harus dapat mengetahui dan memahami anaknya serta memastikan anaknya mendapatkan tenaga pengajar yang sesuai untuk menangani masalah disleksia tersebut. (SM)


Sumber referensi: The Little Book of Dyslexia, Joe Beech

Hari Minggu tiba, waktunya Rumput Liar beraksi!

Jarum jam menunjukkan pukul 14:23 WIB saat adik-adik peserta didik Rumput Liar mulai terlihat duduk manis di depan teras gedung balai desa. Senyum polos dan sapaan hangat dari mereka menyambut kakak-kakak relawan yang baru sampai.


Sebelum memulai pelajaran, adik-adik bersama para relawan bermain 'Kucing dan Tikus' bersama-sama di halaman balai desa. Permainan 'Kucing dan Tikus' ini adalah sebuah permainan yang mengharuskan para pemainnya saling berpegangan tangan satu sama lain untuk membuat lingkaran. Lalu, dengan satu orang menjadi Tikus, satu orang menjadi Kucing dan saling mengejar satu sama lain, melewati lingkaran yang dapat membuka dan menutup untuk melindungi si Tikus. Teriakan-teriakan dan tawa geli memenuhi lapangan balai desa. Semua terlihat ceria dan senang sebelum belajar dimulai. 


Seusai bermain, belajar pun dimulai. Kami membaca doa sebelum memulai proses belajar. Lalu, seperti biasa, adik-adik dikelompokkan berdasarkan kelas dan duduk dalam lingkaran kelasnya masing-masing bersama kakak pengajarnya. Hari ini, anak-anak terlihat bersemangat mengikuti pengarahan dan pelajaran matematika yang diberikan oleh kakak pengajarnya. Mereka antusias sekali ketika menjawab berbagai pertanyaan yang diberikan oleh kakak pengajarnya. 

Tidak terasa, waktu belajar telah usai. Adik-adik dipersilahkan memasukkan peralatan tulis dan buku-buku mereka ke dalam tas masing-masing lalu bersiap untuk pulang. Namun, sebelum pulang adik-adik mendapatkan dua kejutan dari kakak-kakak relawan Rumput Liar. Kejutan pertama adalah sebuah lagu baru yang dengan sangat riang dinyanyikan bersama-sama hingga memecahkan tawa riang dalam ruangan. Kejutan kedua adalah masing-masing adik dibagikan satu kotak susu rasa coklat yang diberikan oleh donatur kepada Komunitas Rumput Liar. Mereka sangat senang dan menghabiskan susu yang diberikan dengan lahap. 

Bahagia dan membahagiakan orang itu ternyata sederhana. Keceriaan yang didapat dari senyum bahagia adik-adik peserta didik kami adalah hal yang paling kami tunggu-tunggu di setiap jadwal kami mengajar di Desa Blangkrueng. Karena berbagi senyuman adalah hal yang paling mudah untuk dilakukan dan sebagai perwujudan bentuk cinta kami yang paling dalam kepada adik-adik kami di Desa Blangkrueng. (SM/DP)



Photo taken by: Dony Prasetyo


Belajar tidak selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kadang-kadang, belajar menjadi sesuatu yang membosankan atau berat untuk dilakukan. Ada saatnya ketika anak-anak bahkan kita sendiri merasa kesulitan selama berjam-jam lamanya untuk menerima informasi baru atau mempelajari suatu keterampilan yang baru.

Ada pula suatu ketika di mana pikiran kita berkata, "Saya tidak bisa melakukan ini. Ini sangat susah!", lalu kita mulai merasa cemas, frustasi dan merasa kurang berbakat atau kurang pintar. Namun, percayalah bahwa semua orang pernah merasakan hal yang serupa. 

Pada kasus ini, keterampilan dan ketekunan seorang guru sangatlah diperlukan. Guru harus dengan tekun mendidik murid-muridnya agar mereka mencintai proses belajar itu sendiri dan meyakinkan muridnya bahwa tiap-tiap mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang mereka dapatkan. Seorang guru harus meyakinkan dirinya sendiri serta muridnya bahwa tantangan demi tantangan yang dirasakan oleh muridnya tersebut akan membuat mereka menjadi lebih kuat, lebih pandai dan akan lebih nyaman dalam proses belajar ke depannya. 

Seperti saat kita kecil dahulu, kita mendapatkan tugas untuk menghafalkan perkalian dari 1 sampai 10, ditambah lagi dengan berbagai tugas rumah pelajaran lainnya yang harus di selesaikan dalam waktu yang bersamaan. Kita tahu bahwa menjalani berbagai kesulitan ataupun tantangan dalam proses belajar itu sebenarnya memang tidak mudah bagi anak-anak. Namun, kebanggan dan kebahagiaan yang akan dirasakan ketika tantangan tersebut diselesaikan dan mendapatkan manfaat ilmu pengetahuan yang baru dari proses belajarnya.

Pelajaran seperti matematika, ilmu sains, sejarah, dan pelajaran menulis memang pelajaran yang penting untuk diajarkan. Namun, kita juga harus mengingat bahwa dalam proses belajar setiap anak mempunyai cara ataupun ciri-ciri tersendiri untuk menerima, mengolah dan memahami ilmu yang diajarkan serta memiliki batasan-batasan dalam proses belajarnya. Ada anak-anak yang lebih mudah jika belajar menggunakan gambar atau video, ada anak yang lebih senang mendengarkan gurunya menjelaskan, atau ada pula anak yang dapat mengerti hanya dengan membaca saja. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing dan seorang guru harus bisa mengerti dan mencoba untuk memfasilitasi kebutuhan murid-muridnya.

Ketika belajar terasa tidak menyenangkan, kita bisa mencoba untuk memberikan dorongan dan motivasi kepada anak. Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memberikan dorongan dan motivasi agar mereka kembali belajar dengan gembira adalah sebagai berikut:

  1. Ceritakan tentang perjuangan kita dalam belajar saat kita masih seusia mereka dulu. Ceritakan perasaan kita pada saat itu, misalnya pengalaman kita saat kesulitan menghafal perkalian atau pembagian. Lalu, jangan lupa menceritakan solusi untuk permasalah tersebut dan ceritakan perasaan kita ketika kita telah berhasil melewati kesulitan tantangan tersebut.
  2. Berikan kesempatan pada anak-anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Dengan cara itu, guru dapat mengidentifikasi penyebab dari kesulitan yang mereka alami. Untuk anak yang lebih dewasa, kita dapat menggunakan teknik diskusi untuk mencari masalah dan solusi masalahnya bersama-sama.
  3. Tempelkan beberapa poster dengan warna-warni dan gambar menarik di dalam kelas atau ruangan belajar anak dengan berbagai kalimat yang mudah dipahami dan bermakna, misalnya "Rajin Pangkai Pandai", "Belajarlah agar cita-citamu tercapai," atau "Bila kamu tidak tahan lelahnya belajar maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan." (-Imam Syafi'i)
  4. Untuk anak yang lebih dewasa atau usia remaja, kita bisa mencoba memberikan beberapa buku bacaan inspiratif tentang orang-orang sukses yang dulunya pernah mengalami berbagai kegagalan. 
  5. Terakhir, tetap berikan dorongan dan semangat pada anak agar mereka tetap berusaha meskipun mereka pernah merasa kecewa atas kegagalan yang pernah dilaluinya. Kita bisa membantu dengan memberikan fasilitas yang lain atau menggunakan metode mengajar yang lain agar anak-anak mendapatkan suasana belajar yang baru dan menjadi lebih bersemangat untuk mencoba kembali.
Selain itu, seorang guru harus dengan sabar dan dengan penuh kasih sayang membimbing 'perjuangan' murid-muridnya. Jangan pernah membiarkan murid kita meyakini bahwa kegagalan adalah akhir dari perjuangannya. Yakinkan murid kita bahwa setiap kegagalan yang pernah mereka lalui akan menjadi pengalaman berharga dan mereka dapat mencoba kembali dari awal. Percayalah bahwa setiap murid yang kita ajarkan akan menjadi orang-orang hebat di masa mendatang. Dan tetaplah mengajarkan dan mendidik anak-anak dengan cara yang menyenangkan dan penuh kasih sayang. (SM)





Source by: Michael Connolly, Teaching Kids to Love Learning, Not Just Endure It
Picture from: http://fobidik.deviantart.com/art/He-must-Study-Hard-151100813


Minggu, 25 Januari 2015

Hari ini adalah pertemuan ketiga relawan Rumput Liar dengan adik-adik Desa Blang Krueng. Alhamdulillah adik-adik yang datang hari ini jauh lebih banyak dari dua pertemuan sebelumnya. 

Pertemuan hari ketiga ini, khususnya pada adik-adik kelas A yang terdiri dari TK dan kelas 1-2 SD, diberikan materi Bahasa Inggris. Mereka diajarkan cara menyebutkan angka 1 sampai 10 dalam Bahasa Inggris dan beberapa kosa kata sederhana seperti flower, car, dan kata-kata lainnya yang mudah untuk diingat. Adik-adik kelas A pun mencatat apa yang dikatakan oleh Kakak relawan yang bertanggung jawab untuk kelas A pada hari ini. 

Sementara untuk kelas B yang terdiri dari anak kelas 3-4 SD membahas seputar Indonesia, khususnya tentang kepulauan Indonesia dan nama-nama provinsi yang ada di Indonesia. Kami memberikan materi selama setengah jam, membiarkan anak-anak mencatat nama-nama provinsi di Indonesia ke dalam buku catatan masing-masing, lalu melakukan tanya jawab secara lisan yang membuat anak-anak besorak-sorak gembira saat menjawab pertanyaan. 

"Ayo, coba sebutkan ada berapa pulau di Indonesia?" Tanya kakak relawan pada adik-adik kelas 3-4.
"Ada 5 Kak!" Jawab mereka bersemangat dan penuh antusias.
"Coba sebutkan!" minta kakak relawan.
"Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Papua!"
"Kalau begitu, berapakah jumlah provinsi yang ada di Indonesia!" pertanyaan selanjutnya.

Beberapa anak menjawab asal; 5, 12, bahkan ada yang menjawab 100 provinsi dan diikuti gelak tawa para relawan dan anak-anak lainnya.
"Negara Indonesia itu memiliki 34 provinsi."

Lalu, mulailah penjelasan berikutnya mengenai provinsi-provinsi di Indonesia yang dimulai dari provinsi Aceh, Sumatera Utara, Jakarta, Jambi, Yogyakarta, sampai ke Papua. Kami meminta anak-anak untuk menyebutkan kembali apa-apa saja yang sudah mereka salin ke dalam buku catatan mereka secara bersama-sama. Setelah dirasakan tidak ada yang tertinggal maka kakak relawan yang bertanggung jawab pada hari itu melakukan sedikit permainan puzzle pada adik-adik kelas 3-4. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok kecil yang masing-masing kelompok terdiri dari 5 atau 6 orang saja. Lalu, kami membagikan peta Indonesia lengkap dengan nama-nama provinsinya yang sudah kami potong-potong hingga berbentuk seperti potongan permainan puzzle. Masing-masing kelompok diberikan potongan puzzle yang sama dan diberikan waktu sepuluh menit untuk menyusun potongan puzzle Pulau Indonesia.

Kelompok pertama siap dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Disusul kelompok kedua dan ketiga yang agak sedikit terlambat. Namun, semua anak ikut terlibat dan aktif dalam kelompoknya masing-masing. Pada permainan seperti ini diharapkan agar mereka mampu belajar bekerja sama dalam sebuah tim, mendengarkan pendapat teman-teman di kelompoknya, dan belajar untuk bersabar menerima kekalahan. 

Puzzle Kepulauan Indonesia sudah rapi dan tertata sesuai dengan yang ada di peta. Selanjutnya, kelompok diberikan potongan huruf-huruf dari nama provinsi di Indonesia dan mereka harus menyusun potongan huruf-huruf tersebut hingga menjadi nama yang sesuai. Anak-anak terdengar bergembira dan sedikit gaduh saat mengeja nama provinsi. Ada pula kelompok yang kesusahan karena kekurangan huruf 'J' untuk menuliskan provinsi Jakarta, Ibu kotanya Indonesia. 

Untuk kelas 5-6 diajarkan tentang nama-nama ibukota dari berbagai negara di dunia, pula dijelaskan beberapan keunikan atau ciri khas dari masing-masing negara yang mereka sebutkan. Dan seperti kelas A dan B, kelas C pun diberikan permainan yaitu tebak-tebakan nama ibu kota negara dan bermain tebak-tebakan nama binatang dalam bahasa Inggris. 

Alhamdulillah, pertemuan hari ini usai sudah. Seperti biasa, anak-anak diminta untuk duduk rapi dan membaca doa untuk mengakhiri pertemuan. Seusai berdoa, mereka diminta untuk duduk tenang dan kelas yang paling rapi akan dipersilahkan untuk berbaris dan menyalami semua kakak dan abang relawan yang bertugas hari ini. 

Satu per satu anak menyalami kami dan kami pesankan untuk kembali lagi di pertemuan selanjutnya. Langkah-langkah kecil itu semakin menjauhi gedung balai desa, namun ingatan kami semua tentang keluguan, kelucuan, dan kejujuran diri mereka selalu membekas di benak kami, para relawan. (SM)

Children learn best when they like their teacher and they think their teacher likes them. -Gordon Neufeld

Photo by Dony Prasetyo
Kutipan di atas sepertinya cukup membekas di benak seseorang yang pernah ataupun berprofesi sebagai pengajar. Tidak perlu disangkal bahwa menciptakan suasana yang menyenangkan saat mengajar di kelas merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi seorang pengajar. Begitu pula bagi para relawan dari Komunitas Rumput Liar, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan untuk anak-anak di Desa Blang Krueng merupakan tantangan seru, dimana tanpa terciptanya suasana belajar yang menyenangkan anak-anak akan bosan dan kemungkinan terburuknya adalah malas untuk datang kembali dan belajar bersama setiap Hari Rabu dan Minggu.

Mari kita baca sekilas gambaran mengenai suasana kelas di Desa Blangkrueng pada Hari Rabu (4/3/15).
Matahari bersinar cukup terik pada pukul 14.30 WIB di daerah Desa Blangkrueng, Aceh, namun nyatanya tidak menyurutkan semangat adik-adik dan kakak-kakak relawan Rumput Liar untuk datang memenuhi sebuah ruang serba guna desa tersebut. Semua berkumpul dengan wajah yang antusias, tak sabar mendapatkan ilmu dari kakak-kakak relawan, mulai dari adik-adik yang masih duduk di bangku TK hingga yang sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Pertanyaannya, bagaimanakah cara mengajari pelajaran matematika pada anak-anak dalam cuaca panas dan gerah?

Relawan Rumput Liar membagi adik-adik dalam kelompok-kelompok kecil, setiap kelompok terdiri dari TK, SD kelas 1-2, SD kelas 3-4, dan SD kelas 5-6. Dimana setiap kelompok kecil didampingi oleh dua orang relawan. Berbeda usia anak, tentu saja berbeda pula pola mengajarinya, di sinilah seorang pengajar harus memahami bagaimana pola pikir anak-anak, agar tidak membosankan, sistem belajar dibuat dengan cara bermain sambil berhitung. Untuk anak TK dan SD kelas 1-2 disediakan permainan dengan warna-warna menarik.

Untuk setiap kelompok belajar disediakan satu buah papan tulis dimana anak-anak bisa aktif bertanya-jawab dengan kakak pengajarnya, terutama bagi SD kelas 3-6 yang sudah pandai perkalian terlihat antusias dengan memborong sejumlah pertanyaan tentang perkalian dan pembagian. Tidak perlu terburu-buru dalam mengajari seorang anak, dalam kelas belajar Rumput Liar tidak ada yang harus dikejar, tidak ada sosok seorang guru yang harus ditakuti, sehingga anak-anak dengan riang dapat menyerap materi-materi yang diajarkan tanpa perlu takut memberikan jawaban yang keliru mengenai soal matematika yang diberikan.

Dan hal yang cukup penting untuk diterapkan dalam sebuah kelas belajar adalah bagaimana seorang pengajar bisa menunjukkan pada anak-anak bahwa ia senang saat mengajari anak-anak. Sebab ekspresi pengajar yang menunjukkan emosi kesal, bosan, bingung, terlebih lagi marah dapat terlihat jelas oleh anak dan memberikan efek yang buruk. Ciptakan suasana belajar penuh tawa sehingga mengurangi kejenuhan anak dan meningkatkan rasa penasarannya untuk memecahkan sebuah soal.
Jadi, bagaimana menciptakan suasana belajar matematika yang menyenangkan saat cuaca panas dan gerah?

Jangan segan-segan tersenyum, jangan perhitungan dalam berbagi tawa, dan jangan terlalu menghitung batas kesabaran. Karena bisa jadi sewaktu kecil dulu Anda adalah tipe anak yang sangat sulit diajak belajar. So keep calm and study smart! (NF)
Photo by Dony Prasetyo

Powered by Blogger.